Teknik SEO Itu Hanya On Page – Tidak Ada Namanya Off Page

Yah, mungkin untuk sebagian (besar) praktisi SEO atau guru SEO, tidak setuju dengan apa yang saya katakan ini. Saya faham, karena saya coba riset baik di Indonesia maupun di dunia, kebanyakan orang akan selalu mengatakan tentang SEO On Page, yaitu membangun backlink.

Memangnya kenapa dengan membangun backlink? Sudah lama saya memikirkan ini. Dan saya sudah lama juga berhenti membangun backlink. Bukan karena tidak boleh atau tidak sukai Google. Saya tidak peduli dengan aturan Google. Saya tidak nyaman dengan backlink, merasa sesuatu yang tidak beres.

Beberapa tahun lalu, saya pernah ikut sebuah pelatihan link building seharga jutaan rupiah. Anehnya, justru setelah ikut pelatihan itu saya memikirkan ulang tentang link building dan mulai mempertanyakan. Apakah saya buang uang?

Mungkin iya, jika saya hanya membeli ilmu. Ilmu link building dari pelatihan itu tidak pernah saya gunakan sampai sekarang. Tapi saya dapat ilmu lain dan juga lebih penting dapat teman baru. Tidak rugi. Jadi bukan karena saya tidak bisa link building. Saya hanya tidak nyaman saja dengan link building, karena ada unsur rekayasa.

Lalu Mengapa Google Memberi Ranking Ke Halaman Website Yang Banyak Backlink-nya?

Faktanya masih seperti itu. Terutama untuk kata kunci banyak saingan, yang muncul di halaman 1 adalah halaman-halaman website yang memiliki banyak backlink. Dari riset yang dilakukan banyak pihak, bahwa backlink adalah salah satu faktor penting penilaian ranking sebuah halaman website.

Mengapa Backlink Menjadi Faktor Ranking?

Sampai sejauh ini, mesin Google masih memberi penilaian positif terhadap backlink, kecuali backlink yang sudah terindikasi jelas “black hat”. Tapi saya tidak sedang membahas black hat atau white hat. Kita fokus dulu membahas backlink. Mengapa backlink jadi faktor ranking.

Kita harus memahami filosofi kenapa backlink menjadi faktor yang dinilai. Begini: Google ini memberikan hasil pencarian di mesin pencari (Google). Jika hasil pencariannya banyak, maka Google akan memberikan nilai, konten mana yang paling bagus dan paling relevan dengan apa yang dicari. Mereka membuat rumus penilaian (algoritma), konten mana yang terbaik dan dirankingkan.

Backlink menjadi salah satu faktor penting penilaian itu. Kenapa? Filosofinya adalah karena jika banyak backlink, bisa diasumsikan konten tersebut banyak yang merujuk, artinya punya kualitas yang bagus. Itu tujuan Google mengapa menilai backlink.

Ini berlaku, jika link diberikan karena memang konten itu bagus. Misalnya saya memasang link ke sebuah konten karena memang, kontennya bagus. Saya memberi nilai yang kemudian dicatat oleh Google. Jika ceritanya seperti, backlink tidak masalah. Backlink = kualitas.

Masalahnya banyak yang melakukan sebuah “rekayasa”. Misalnya seperti ini:

  1. Si A membuat konten.
  2. Supaya konten si A ranking, si A memasang link di berbagai website orang lain. Banyak caranya. Bisa sendiri atau membayar orang lain. Ini yang disebut link building.
  3. Dan/atau membuat website yang banyak, kemudian memasang backlink ke konten tadi. Jadi akan banyak link, padahal dari website sendiri. Ini disebut PBN, private blog network. Baik itu menggunakan blog dengan hosting berbayar atau gratisan.
  4. Maka rankinglah konten si A, karena punya backlink yang banyak.

Mengapa si mesin Google meranking? Yah, karena dia tidak bisa membedakan apakah itu link hasil rekasa atau link natural karena kualitas konten yang bagus.

Backlink Yang Disukai Google

Banyak ahli SEO yang mengklasifikasikan backlink. Katanya ada white hat ada black hat. Ada backlink yang disukai ada yang tidak. Memang betul. Satu-satunya backlink yang disukai oleh Google adalah backlink yang terjadi secara natural, karena konten kita menjadi rujukan, karena konten kita bagus.

Bukan backlink karena kita sendiri yang membuatnya. Inilah backlink yang tidak disukai oleh Google. Banyak orang yang membuatnya seolah terlihat natural, sehingga dianggap natural oleh Mesin Google. Ada yang berpikir ini boleh. Artinya saat Google tidak tahu itu sebuah rekayasa, boleh-boleh saja.

Sekali lagi, bukan Google pertimbangan saya tentang backlink. Saya lebih melihat aspek kejujuran. Google mungkin masih bisa dikelabui, tapi Allah tidak.

Backlink natural akan datang, jika kita membuat konten yang berkualitas dan relevan. Inilah SEO, hanya ON Page, yang artinya bagaimana mengoptimasi halaman kita sendiri. Bagaimana caranya agar konten kita berkualitas dan relevan. Hanya on page. Backlink datang dengan sendirinya.

Apakah Mesin Google Tidak Bisa Membedakan Backlink?

Dari berbagai update Algoritma, saya tahu Google sudah berusaha untuk bisa membedakan, mana backlink natural atau mana backlink hasil buatan kita sendiri. Hanya saja, faktanya, sampai sekarang belum benar-benar mampu membedakan. Masih banyak website dengan backlink buatan sendiri yang ranking.

Bukan berarti dibolehkan Google, tapi karena kemampuan mesin Google yang belum bisa. Belum sempurna. Jalan keluarnya adalah mereka melakukan audit secara manual gabungan antara data dari mesin dan evaluasi manusia. Ini sudah dilakukan beberapa tahun belakangan ini. Tapi, jumlah website itu buanyak sekali, mereka memprioritaskan website yang besar dulu.

Mungkin ke depan, mesin Google akan semakin sempurna membedakan mana backlink hasil rekayasa atau backlink natural. Jika kita mendengar apa yang disebut update algoritma, sebenarnya mereka melakukan perbaikan untuk bisa lebih mampu menilai website terbaik.

Lalu, Bagaimana Bisa Ranking Jika Tanpa Backlink?

Sekali lagi, bukan berarti backlink itu tidak boleh. Kalau terjadi secara alami itu malah bagus. Bagus malah. Memang tantangannya, tidak semua konten akan mendapatkan backlink alami. Ini betul. Jika kita membuat halaman penjualan, kecil kemungkinan mendapatkan backlink natural. Bahkan, konten informasi dan edukasi pun tidak mudah.

Jujur saja, selama saya riset, sudah cukup lama, kebanyakan ahli SEO mengatakan tidak mungkin atau susah (banget) bisa ranking jika kita tidak punya banyak backlink. Saya setuju, terutama untuk kata kunci yang memiliki persaingan berat. Backlink akan memiliki peran besar dan jika kita menunggu secara natural, akan sangat lama.

Untungnya ada juga orang yang ternyata sependapat dengan saya. Tidak banyak memang, tapi ada. Dia mengembangkan teknik SEO tanpa backlink.

Perlu Pergeseran Mindset Tentang SEO

Selama ini, cara berpikir orang, SEO itu tentang ranking. Ranking tentang bersaing. Mendapatkan nilai sebaik mungkin. Dan cara tercepat dan termudah mendapatkan nilai adalah dengan membangun backlink (link building). Dan ini disepakati oleh banyak “ahli” SEO. Baik lokal maupun dunia.

Yang saya lakukan sekarang adalah, bahwa SEO adalah tentang ditemukan di Google atau mesin pencari lainnya. SEO ada visibility. Dan, ranking adalah bukan satu-satunya cara ditemukan di mesin pencari.

Lalu mindset baru apa yang saya gunakan saat ini? Untuk bisa ditemukan di mesin pencari, kita bisa melakukan dengan dua cara, yang terbaik atau satu-satunya. Jika belum bisa menjadi yang terbaik, maka jadilah satu-satunya, sehingga saat orang mencari, hanya website atau halaman website kita yang ditemukan. Tidak ada saingan, tidak perlu baclink.

Tapi …

Ya saya tahu, banyak tapinya. Saya sudah banyak menyimak berbagai pendapat tentang konsep ini di berbagai forum dan banyak pro kontra. Itu tidak masalah.

Kembali saja ke tujuan utama, yaitu bukan ranking, tetapi ditemukan, mendapatkan pengunjung, dan mendapatkan penjualan. Jika ini bisa dicapai tanpa backlink, kenapa tidak? Kenapa harus diperdebatkan? Bukankah itu tujuan SEO?

Susah Bukan Alasan

Banyak yang beranggapan, jika kita mau ranking tanpa membangun backlink, itu akan susah dan lama. Sebenarnya tergantung sich, jika tahu strateginya, bisa cepat. Kita gunakan saja energi dan biaya untuk backlink dialihkan untuk membangun konten dan website yang bagus.

Anggaplah memang susah. Jika Anda sepakat dengan apa yang saya jelaskan diatas, maka tidak boleh menjadi alasan. Susah bukan alasan untuk meninggalkan apa yang seharusnya ditinggalkan.

Penutup: Link Building Itu Tidak Apa-apa Koq?

Jika Anda tetap berpendapat bahwa link building dengan cara-cara sengaja atau rekayasa itu boleh, itu silahkan saja. Saya hanya mengutarakan pendapat saya, sebuah kewajiban bagi saya untuk menyampaikan apa (yang saya anggap) sebuah kebenaran.

Saya tidak mengatakan bahwa pendapat saya diatas pasti benar. Jika pendapat saya salah dan ternyata ada dalil yang mengatakan bahwa link building itu boleh (halal), saya akan dengan senang hati mengubah pendapat saya. Hanya saja selama ini belum ada yang meyakinkan saya.

Apakah saya tidak diskusi dengan guru link building saya yang dijelaskan diatas? Ya tentu saja sudah. Beliau sudah memberikan alasan kenapa backlink itu boleh. Hanya saja saya belum yakin dan bisa menerima alasannya.

Anda punya pendapat? Silahkan komentar. Silahkan berbeda, karena saya tahu banyak yang berbeda pendapat.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: