Zaman Sekarang, Siapa Yang Bisa Dipercaya?

Sekarang zamannya informasi. Dengan mudah kita mendapatkan informasi dan dengan mudah siapa pun membuat informasi. Sehingga informasi berseliweran di dunia maya.

Satu informasi dengan informasi lainnya sering kali bertentangan, lalau informasi mana yang bisa kita percaya? Siapa yang bisa kita percaya? Atau cukup tidak peduli saja?

siapa bisa dipercaya

Kita Perlu Lebih Kritis

Berita Atau Opini?

Sekarang setiap orang bisa membuat blog atau website berita. Apakah berita-beritanya bisa dipercaya? Belum tentu?

Lalu, apakah berita media mainstream atau media besar bisa dipercaya? Maaf, saya sendiri tidak yakin. Coba saja kita tengok sejarah, banyak media yang ternyata lebih berpihak kepada penguasa. Contoh saja zaman Hitler dulu, apakah semua media mengkritik dia atau malah memujanya? Silahkan cek sendiri.

Saya sendiri sering mendapati sebuah berita dari media besar, baik TV, majalah/surat kabar, atau media online dari media besar, yang isinya bukan berita, tetapi opini.

Contoh saja:

“Anggota DPR mengajukan hak angket KPK”

“Anggota DPR mengajukan hak angket KPK agar koruptor di DPR aman”

Kalimat pertama adalah berita. Kalimat kedua? Itu berita plus opini. Bisa membedakannya? Beritanya mungkin benar, tetapi opini belum tentu benar. Nah, orang kritis bisa membedakan mana fakta, mana berita, mana opini, mana tuduhan. Tidak perlu saya jelaskan satu persatu, karena pada dasarnya semua orang dewasa sudah memahami.

Hanya saja, kadang kita tidak sadar. Otak kita langsung saja menerima, padahal itu adalah opini yang belum tentu benar. Mulai sekarang, cobalah berpikir sejenak. Jangan mudah terbawa opini yang sengaja diarahkan. Oleh siapa pun baik itu media kecil atau media besar.

Mulai sekarang, mulailah jeli mana opini mana berita/fakta.

Cross Check dan Tabayun

Setelah menelaah berita, mana fakta dan mana opini. Manda berita, mana pendapat. Opini dan pendapat itu belum tentu benar. Fakta pun belum tentu benar. Lalu bagaimana untuk memastikan apakah berita itu benar atau tidak.

Cross Check

Saya jelaskan dalam bentuk contoh. Misalnya ada yang share di Facebook bahwa produk tertentu mengandung emulsi dari bari, cirinya ada kode tertentu. Banyak orang yang langsung share. Apakah berita itu betul?

Saya coba cross check. Pertama saya menemukan logo halal MUI. Jika memungkinkan, nomornya bisa dilacak, apakah itu logo asli atau palsu. Anggaplah asli, ternyata sudah dapat sertifikat halal dari MUI.

Benarkah mengandung emulsi babi?

Saya cari di Google berkaitan dengan kode yang dimaksud. Ternyata dari banyak sumber, saya menemukan kode itu bukan indikasi pasti emulsi babi. Dari sini, kita mulai ragu bukan? Berita yang mengatakan produk itu mengandung emulsi babi, ternyata hanya hoax, berita yang tidak jelas.

Dengan cross check dari berbagai sumber, kita bisa membawa kita kepada 3 kondisi

  • Berita tersebut meyakinkan salah
  • Berita tersebut meyakinkan benar
  • Berita tersebut meragukan

Saya hanya mau share berita yang meyakinkan benar. Kalau salah jelas, tidak usah dishare lagi. Meragukan pun saya tidak pernah share (dulu sich pernah, he he, sekarang sudah tobat). Berita meragukan dan meyakinkan salah, tidak akan juga menjadi rujukan dan penentu pengambilan keputusan kita.

Apa Itu Tabayun?

Tabayun itu bertanya atau konfirmasi kepada orang atau pihak yang ada dalam berita tersebut. Misalnya kita membaca berita, si A mengatakan bla bla bla. Apakah benar? Belum tentu. Selain cross check ke berbagai sumber seperti disebutkan diatas, kita bisa bertanya langsung kepada orangnya (jika memungkinkan).

Sekarang zaman tanpa batas, kita lebih mudah (tidak selalu mudah memang) menghubungi orang tertentu melalui social media misalnya. Coba tanyakan. Atau lihat profilnya, blognya, atau berita tentang dia.

Bisa jadi media itu salah kutip, salah mengerti, atau memang sengaja memelintir berita. Bisa jadi alias ada kemungkinan. Saya tidak menuduh, tetapi peluang itu ada. Intinya kita perlu waspada dan kritis terhadap berita apa pun.

Apakah Pendapat Ahli Pasti Benar?

Yang namanya orang tidak ada yang pasti benar. Mau profesor doktor pun. Mau ada gelar KH pun. Hanya para Nabi, manusia yang dijamin benar karena dalam hidupnya dibimbing wahyu Ilahi. Kalau manusia biasa, tidak ada yang pasti benar.

Pada kenyataan, jika para ahli berpendapat, mereka tidak selalu sama bukan? Sering kali ahli A berbeda bahkan bersebrangan dengan ahli B. Dan banyak kasus yang memungkinkan hanya satu yang benar. Artinya ada pendapat ahli yang salah.

Namanya juga manusia. Adalah wajar seorang manusia melakukan kesalahan. Yang salah adalah saat seorang ahli menjual reputasinya untuk membuat pendapat tertentu. Bisa jadi ada ahli yang berpendapat sesuai dengan pesanan. Sekali lagi, hal ini mungkin terjadi.

Selain pendapat pesanan, kadang “rasa” atau hawa nafsu mengalahkan ilmu dan logika. He he … Maksudnya, bagaimana pun seseorang itu ahli, jika dia sudah berpihak atau punya kecendrungan, pemikirannya akan mengarah kesana. Sekali lagi, hal ini bisa terjadi.

Nah, media bisa saja memanfaatkan hal ini. Kita bisa mewawancarai banyak ahli. Kemudian dipilih ahli-ahli yang pendapatkanya sesuai dengan yang kita inginkan. Seolah semua ahli berpendapat demikian. Sementara ahli yang menolak pendapat tersebut tidak ditampilkan.

Kadang, media itu sebenarnya tidak bohong, tetapi mereka bisa memilih berita, mana yang ditampilkan mana yang tidak. Mana yang di ekspos besar-besaran, mana yang sekedarnya saja. Saat menuduh gencar, saat tuduhannya terbukti salah, diam seribu bahasa. Ini mungkin terjadi.

Baik media dan ahli, mereka pada dasarnya manusia. Kebenarannya tidak mutlak bahkan bisa diarahkan untuk menggiring opini tertentu. Selama bisa dibayar, apa pun bisa terjadi.

Semua Mungkin Terjadi

Saya tidak mengatakan media tertentu atau orang tertentu. Saya hanya mengatakan semua diatas mungkin terjadi. Tujuannya supaya kita lebih waspada dan lebih kritis menghadapi berbagai berita. Katanya, pemerintah memerangi hoax.

Mungkin tulisan saya ini sedikit banyak membantu kita menghadapi hoax yang bisa jadi mempengaruhi hidup kita pribadi, negara kita, dan agama kita.

Saya kita kita sama-sama sepakat menginginkan kebenaran. Untuk menemukan kebenaran, kita perlu usaha dan lebih keras berpikir. Tidak begitu mudah percaya juga tidak begitu mudah menolak. Mudah-mudahan kita sama-sama bisa menangkal hoax dan opini yang menyesatkan.

Jika Anda mau berbagi posting ini, gunakan klik Share social media yang ada di bawah ini. Jangan dicopas supaya terjaga keasliannya. Mau berbagi? Share saja linknya via social media.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: