No Downline Better Than Bad Downline

Pernahkah Anda membayangkan ada seorang downline yang manja, segalanya ingin Anda yang melakukan, sedikit-sedikit mengganggu Anda, tidak mau diajari tetapi maunya disuapin, menyebar pikiran negatif ke semua downline, selalu menyalahkan upline, dan sebagainya.

Itulah yang saya sebut bad downline. Dan saya katakan, lebih baik Anda tidak punya downline dari pada punya downline seperti itu. Downline jelek, bukan hanya tidak akan berkembang tetapi merusak diri Anda dan merusak downline lainnya. Kehadiran orang seperti ini malah merusak motivasi downline yang lain.

Waktu dan energi Anda akan habis untuk mengurusi orang ini, sementara downline yang lain, yang baik dan mandiri terabaikan oleh Anda. Anda juga akan kehabisan waktu dan energi untuk membangun bisnis Anda. Tidak menutup kemungkinan downline lain tertular pikiran negatifnya dan tim Anda tidak menjadi kondusif lagi.

Apa Yang Harus Dilakukan Saat Ada Bad Downline?

Saya pernah bertemu dengan beberapa orang seperti itu. Dia membuat kekacauan di group, mempengaruhi downline lainnya. Tidak mau diarahkan dan berbcara seenaknya. Apa yang saya lakukan?

Pada dasarnya, saya tidak mau mengeluarkan dia, tetapi jika dibiarkan akan merusak. Saya keluarkan dari group. Tapi saya tetap membuka peluang jika dia mau berubah menjadi lebih baik. Ada satu orang yang awalnya mengacau di group. Kemudian saya keluarkan. Dia menghubungi saya via japri, kenapa dikeluarkan. Padahal di group sudah saya jelaskan, sebenarnya.

Saya jelaskan duduk perkaranya bahwa apa yang dia lakukan tidak akan membawa kebaikan, baik pada dirinya bahkan merusak pikiran orang lain. Saya jelaskan apa yang salah. Akhirnya dia mengerti dan berjanji akan memperbaiki sikapnya. Saya masukan kembali dan sejauh ini perkembangan cukup lumayan.

Jadi, memang tidak serta merta Anda keluarkan. Bisa jadi orang itu memiliki potensi. Jika bisa diperbaiki dan bisa diajak kerja sama untuk kebaikan bersama, maka lanjutkan saja kerja sama Anda dengan dia. Tentu dengan ada kesepakatan bahwa dia harus memperbaiki sikap dan siap kerja sama.

Jika orang itu tidak mau bekerja sama lagi, bahkan kehadirannya malah merusak, buat apa dipelahara? Lebih baik tidak punya downline daripada Anda akan makan hati, menghabis waktu, memiliki emosi negatif, dan menguras energi.

Jika Anda tidak punay downline, maka itu jauh lebih baik karena Anda bisa merekrut downline yang baru. Anda bisa memilih dengan siapa Anda bisa bekerja sama. Tidak usah takut kehilangan downline yang jelek. Ibarat dalam sebuah pohon, jika ada daun, buah, atau batang yang bisa merusak seluruh pohon, maka lebih baik bagian yang jelek itu dipotong saja.

Cara Mencari Good Downline

Lalu bagaimana agar kita bisa mencari downline yang baik dan memiliki potensi yang sukses? Pada dasarnya tidak ada cara yang pasti. Karena bisa jadi awalnya terlihat baik, semangat, dan bergairah, lama-lama semangatnya turun dan menjadi negatif. Itu bisa terjadi.

Sebaliknya kadang ada orang yang awalnya tidak meyakinkan, tetapi lama-kelamaan malah menjadi seorang yang menanjikan. Sukses tinggal menunggu waktu bagi dia. Ya itulah orang, cukup kompleks untuk pahami secara hitam dan putih.

Kuncinya adalah komunikasi sejak awal dan tetapkan aturan agar tim Anda berjalan dengan baik. Berikan pengertian bahwa semuanya dengan kepentingan dan keberhasilan bersama. Sejauh ini, atmosfir menjadi lebih baik. Sangat jarang yang negatif dan menyebar hal yang negatif.

Salah Pengertian Tentang Support Yang Membuat Kecewa

Kadang ada juga orang yang salah mengerti tentan arti support dari upline. Mereka mengira upline akan melakukan segalanya buat dia. Downline dicariin, produk dijualin, downlinenya dibinain. Ada yang seperti itu? Ada, saya sudah menemukannya. Atau Anda berpikir seperti itu? Jangan dech.

Support dari upline yang benar adalah menjadikan downlinenya mandiri dengan cara mengajari, memotivasi, dan mengarahkan. Tujuannya adalah BISA secara MANDIRI. Hanya dengan cara inilah team Anda bisa berkembang.

Jika ada yang berpikir bahwa seorang upline harus mengerjakan pekerjaan downlinenya, itu adalah pemikiran masuk akal. Coba pikirkan, posisikan Anda sebagai seorang upline. Jika Anda punya 1 downline, maka Anda bisa mengerjakannya.

Namun bagaimana jika Anda memiliki 10, 100, 1000 atau lebih downline? Tidak mungkin Anda harus turun tangan mengerjakan semua downline. Jika Anda mengerjakan sebagiannya saja, misalnya beberapa orang, maka yang lain  akan meminta hal yang sama. Jadi ini adalah pemikiran mustahil.

Jika Anda seorang downline, maka pikirkan bagaimana agar Anda bisa mandiri menjalankan bisnis, mintalah arahan dari upline Anda. Jika Anda seorang upline, maka bagaimana agar downline Anda mendapatkan arahan yang tepat agar mereka bisa menjalankan bisnis ini secara mandiri.

Mau mendapatkan arahan menjalankan bisnis dari saya? Simple, kalau Anda menjadi downline saya, maka saya siap membantu, mengarahkankan, menjadi mentor, dan menjadi coach Anda untuk meraih suskes bersama bisnis saya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: