Menentukan Halal dan Haram adalah Hak Allah

Saya suka membaca, saat ada seseorang yang mengatakan haram sesuatu hal, kemudian ada saja yang menjawab: menentukan halal dan haram adalah hak Allah. Memang benar, saya setuju dan orang ini in syaa Allah orang beriman.

Sayangnya kata-kata itu suka dijadikan dalih untuk membungkam orang lain lain. Misalnya ada seseorang yang melakukan sesuatu yang haram, kemudian diingatkan orang lain kalau hal tersebut haram. Terus, dia orang itu mengatakan menentukan halal dan haram adalah hak Allah.

So what?

Menentukan Halal dan Haram adalah Hak Allah

Sekali lagi, yang menentukan halal dan haram itu hak Allah. Itu betul. Tapi kita harus ingat, bahwa ketentuan-ketentuan halal dan haram dari Allah sudah ada di Al Quran dan Hadist. Dan itu bisa dibaca untuk kita PATUHI.

Kalau Anda tidak mengetahui apakah sesuatu itu halal atau haram, maka bacalah Al Quran dan Hadist. Jika menurut Al Quran haram, maka itu artinya haram menurut Allah. Jika kata Rasulullah SAW haram, artinya haram menurut Allah karena beliau berkata berdasarkan wahyu.

Jika yang mengatakan itu seorang ulama yang level mufti atau majelis ulama atau majelis syuro, mereka itu berdasarkan Al Quran dan Hadist, artinya menurut Allah juga. Jadi para ulama itu bukan ngarang ya, menentukan halal haram. Apalagi seperti MUI, namanya juga, majelis, banyak ulama yang membahas.

Biasanya dibutuhkan pembahasan lagi (qiyas dan ijma) jika kasusnya tidak spesifik disebutkan dalam Al Quran dan hadist. Makan daging babi itu haram, ini tidak perlu dibahas lagi dan tidak perlu fatwa. Jika belum ada, maka dibutuhkan fatwa dari para ulama.

Kenapa ulama? Kenapa kita tidak mengambil kesimpulan sendiri? Pada dasarnya siapa pun boleh mengambil kesimpulan sendiri. Yang jelas kesimpulan diambil itu harus berdasarkan pertimbangan Al Quran dan Hadist bukan? Saya belum hafal Al Quran dan maknanya. Apalagi hadist hanya beberapa yang hafal. Akan lebih valid jika para ulama yang pakar berkumpul dan membahasnya. Saya mah ikut saja.

Jadi halal haram itu memang Allah yang berhak menentukan DAN sudah ada di Al Quran dan Hadist, kalau lah para ulama mengeluarkan fatwa tentang hukum tertentu yang belum ada di Al Quran dan Hadist, mereka mengeluarkan fatwa berdasarkan pertimbangan ketentuan-ketentuan Allah melalui Al Quran an Hadist.

Yang salah justru malah kita yang menentukan halal haram. Jangan karena kakek nenek membolehkan kemudian jadi halal.

Bagaimana jika ada ulama yang membolehkan sementara para ulama lain mengharamkan? Ya beda pendapat itu wajar. Tidak masalah. Kalau saya teliti saja pendapat keduanya, kemudian saya pilih yang mana yang menurut saya lebih meyakinkan kebenarannya.

Contoh tentang hukum MLM. Ada yang mengharamkan mutlak, sementara MUI membolehkan dengan syarat tertentu. Saya teliti saja keduanya. AKhirnya saya lebih setuju dengan MUI, MLM halal dengan syarat-syarat tertentu yang dijelaskan oleh fatwanya.

Halal haram itu bukan main-main. Berbeda pendapat boleh. Memilih yang berbeda juga boleh. Hanya diingat saja bahwa nanti kita akan mempertanggung jawabkan semua pilihan kita.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: