EGO Is My Enemy and My Friend – Pembawa Gagal atau Sukses

EGO Yang Membawa Kegagalan (Musuh)

Saya pernah membaca buku dengan judul EGO Is The Enemy. Disana banyak contoh, orang hancur karena egonya sendiri. Disini kita perlu hati-hati dengan ego kita.

Salah satu contoh EGO yang mengancurkan diri sendiri adalah mereka yang bersikukuh dengan pendapat, metode, atau caranya. Padahal dunia sudah berubah, zaman sudah berubah.

Banyak perusahaan besar, hancur gara-gara EGO. Mungkin kita pernah mendengar bagaimana kehancuran yahoo dan Nokia. Itu adalah EGO.

Perlu difahami bahwa cara yang sudah terbukti dimasa lalu, tidak akan selamanya berhasil untuk masa kini dan masa depan. Makhluq yang bertahan bukan siapa yang besar dan kuat, tetapi yang bisa menyesuaikan dengan perubahan zaman.

Ego seperti ini, bisa menghancurkan. Di buku itu banyak contoh. Kita perlu hati-hati. Artinya secara disiplin memonitor pikiran kita, agar tidak terjebak dengan EGO yang membawa kepada kehancuran. EGO yang membuat kita tidak berpikir cerdas karena mengikuti keangkuhan diri.

ego

Lalu EGO Seperti Apa yang Bisa Menjadi Teman?

EGO yang berkaitan dengan kepercayaan diri. EGO yang mengatakan saya BISA. Meski pun sudah berkali-kali belajar atau berkali-kali menawarkan sesuatu, dia gagal terus, namun terus bangkit karena egonya mengatakan, saya bisa, hanya saja belum ketemu caranya.

Thomas Alpha Edison adalah contohnya. EGOnya mengatakan saya bisa membuat bohlam lampu. Sehingga sudah ribuan kali gagal pun, dia terus mencoba, akhirnya berhasil. Banyak juga contohnya, yang hidupnya sukses justru karena EGOnya yang kuat.

Intinya Adalah Pengendalian Diri

EGO sebenarnya bukan musuh. EGO yang tidak diarahkan ke arah yang benar, itulah musuh. EGO diciptakan pada diri manusia pasti ada hikmahnya. Tinggal kita memanfaatkanya ke arah positif atau negatif.

Cara mengarahkan ego adalah dengan berpikir akurat. Dan kita tidak akan pernah bisa berpikir akurat jika pikiran kita terpengaruhi oleh emosi merusak. Dan, emosi paling merusak adalah TAKUT.

Kita harus secara disiplin, mengarahkan dan memeriksa pikiran kita. Apakah benar-benar mengikuti logika berdasarkan informasi yang akurat. Atau pikiran kita hanya membuat kita merasa lebih nyaman menutupi ketakutan kita. Apakah, pikiran kita mengikuti rasa takut atau mengikuti kebenaran.

Ketakutan yang berlebihan akan menutupi kebenaran. Takut kehilangan dan kegagalan sering kali justru membuatnya tidak rasional. Sementara mereka merasa rasional. Yang sebenarnya hanya mengikuti ketakutan saja.

EGO sering kali diarahkan oleh rasa takut. Misalnya takut untuk memulai hal yang baru dan lebih menantang. Pikirannya akan diarahkan kepada pada apa yang dia bisa, dia biasa, dan dia nyaman melakukannya.

Awasi ego Anda setiap hari. Ya, harus secara disiplin mengawasi ego. Seperti disiplinnya Anda memegang stir agar tetap berada di jalan yang benar. Lalai, bisa membuat diri Anda tergelincir, seperti tergelincirnya sebuah mobil karena ngantuk.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: